Selasa, 21 Juni 2011

Pejuang Wanita Aceh

AKHIRNYA semester enam yang "berat" ini berakhir juga. Alhamdulillah, setelah hampir dua minggu liburan, sudah ada beberapa hasil final yang keluar. Hasilnya sangat memuaskan menurutku. Bahkan teman-teman sekelasku semester ini juga mendapatkan hasil yang sangat baik. Saya ingat saat mengerjakan tugas-tugas semester enam yang sangat menumpuk dan jelas-jelas membuat pikiran ini "tertekan", ada satu tugas yang ketika itu harus saya siapkan mati-matian. Tugas pembuatan film pendek. Walaupun akhirnya saya mendapatkan nilai A untuk tugas itu, tapi perjuangan untuk itu hingga saat ini masih jelas di benak saya ini. Dua "srikandi", begitu julukan yang diberikan untukku dan salah seorang teman sekelompokku. Yah, julukan seperti ini hanya gara-gara kami rela "tepar" dan berpanas-panasan shooting, jadi camerawoman, karna kekurangan anggota. Haha...sebagai kaum hawa, kami tentunya sangat bersemangat dan pantang menyerah. Hasilnya, yah lumayanlah. Asalkan sudah mendapatkan nilai yang baik, itu cukup. Berjuta pengalaman pun sudah kami dapatkan.MSN Onion Emoticons

Beranjak dari sana, ternyata ada banyak hal yang sebenarnya dipandang sulit untuk dikerjakan wanita, justru mudah jika dikerjakan sungguh-sungguh. Tak selamanya harus bergantung pada lelaki jika keadaan sangat tidak memihak kita. Menelusuri sejarah Aceh  dahulu, begitu banyak srikandi-srikandi yang berasal dari Aceh yang memiliki peran sangat besar dalam perjuangan Aceh. Wanita Aceh saat perjuangan dulu memiliki karakter yang sangat kuat, memegang andil di belakang perjuangan para pejuang pria. Perang Aceh telah mencetak para wanita  dengan semangat yang luar biasa. Seperti Cut nyak Dhien yang memimpin perang melawan Belanda setelah T.Umar suaminya wafat, Pocut Meurah Intan yang bersama anak-anaknya melawan penjajah Belanda di hutan sehingga ia tertawan. Laksamana Malahayati  yang menjadi pimpinan armada laut Aceh darussalam yang sangat handal saat perang melawan Portugis. Dan bahkan ada juga yang menjadi sultan memimpin kerajaan Aceh, yang biasa disebut dengan dengan panggilan sultanah Aceh seperti Sri Ratu Tajul Alam Safiatuddin (1050-1086 H), Sri Ratu Nurul Alam Naqiatuddin (1086-1088 H), Sri Ratu Zakiatuddin Inayat Syah (1088-1098 H), Sri Ratu Kamalat Syah (1098-1109 H).


Para pejuang wanita dari Aceh ini terkenal sangat ditakuti karena sifat mereka yang pantang menyerah dan tidak pernah mau melarikan diri setiap pertempuran. Para penjajah pun kagum dengan keteguhan dari pejuang Aceh ini. Selain kekerasan hati mereka yang tidak ingin menyerahkan diri mereka pada penjajah dalam kondisi seperti apapun, mereka juga sangat menjaga ketaatan mereka terhadap islam agama yang dipegangnya juga menjaga baik marwah dan martabatnya. Kemuliaan pejuang wanita Aceh begitu terjaga.


Seperti Cut Nyak Dhien yang bertahun-tahun hidup bergerilya di hutan-hutan setelah T.Umar tewas, dialah yang menjadi ujung tombak penggerak rakyat Aceh untuk tetap pantang menyerah melawan Belanda. Cut Nyak Dhien juga sering memberi nasehat untuk tidak melupakan Agama, itu yang paling penting. Walaupun Cut Nyak semakin renta dan buta, dia tetap bisa menyemangati pejuang Aceh lainnya. Semangat seperti inilah yang sangat susah ditemukan pada wanita saat ini.


Jika pejuanng wanita ini ditinggalkan suami pergi berperang, mereka akan mendukung sepenuh hati. Walaupun nantinya gugur saat berperang, itu bahkan tak melemahkan hati para pejuang wanita. Ditinggal mati suami justru melahirkan semangat perjuangan yang semakin tinggi. Seperti perjuangan inong balee Aceh.


------>>>


Saat ini, masa perang bersenjata telah kita lewati. Bagi kita wanita Aceh, Bukan saatnya lagi kita harus memegang bedil untuk mengusir penjajah, bukan saatnya kita menggunakan bambu runcing untuk berjuang. Bahkan, bukan saatnya lagi kita harus lari kesana-kemari dalam hutan belukar menghindari musuh. Ada cara lainnya untuk berjuang, tanpa harus mengangkat senjata menghajar musuh dan menggapai impian. Impian kita saat ini tentunya tak jauh berbeda dengan para pejuang wanita dulu, menggapai Aceh yang damai dan maju, menjadi wanita-wanita terbaik.


Jika dulu para pejuang wanita harus rela bersimbah darah untuk memperjuangkan Aceh, sekarang saatnya wanita Aceh lebih menggunakan otaknya. Wanita Aceh adalah wanita yang cerdas yang juga bisa membangun dan membanggakan Aceh. Perang utama saat ini adalah perang pikiran, siapa yang cerdas dialah yang menang. Sebagai wanita yang menjadi pengurus rumah tangga, semangat dan kecerdasan adalah hal yang penting. Terlebih lagi dalam menjaga marwah keluarga dan agama.


Bukan berarti wanita Aceh itu lemah. Sejarah mengatakan bahwa banyak pejuang wanita Aceh yang ditakuti. Mengapa sekarang tidak? 
Dalam upaya pembangunan Aceh, pemikiran dan partisipasi kaum hawa juga sangat penting. Sewaktu-waktu, ada hal-hal tidak bisa dijangkau oleh pemikiran kaum lelaki. Tak selamanya wanita harus berurusan dengan hal-hal rumah tangga yang memang sudah menjadi keharusannya. Dibalik kesuksesan seorang pria, ada peran besar wanita. Nah, bisakah kita menjadi wanita seperti itu?


Jangan menyalahartikan isu persamaan gender yang heboh digaungkan sekarang ini. Jika kembali pada agama, sebagai wanita yang tinggal di daerah dengan syariat islam, jangan sampai termakan pada isu-isu persamaan gender yang merupakan produk budaya barat. Wanita Aceh harus tetap berpegang teguh pada ajaran agama dengan tidak mengenyampingkan kewajiban utama. Lahirkan srikandi-srikandi Aceh dengan semangat perjuangan tinggi untuk membangun Aceh, tak kalah dengan Cut Nyak, Laksamana Malahayati, Sultanah safiatuddin, dan pejuang wanita Aceh lainnya.
Jadilah wanita Aceh yang tegar, bermartabat, dan memiliki semangat juang yang tinggi. Bukan seorang wanita yang mudah menjatuhkan air mata karena ditinggal pacar, mudah dipermainkan cinta, malas membaca sehingga wawasan tak luas, pantang menyerah dan hanya bisa mengeluh. WANITA ACEH BUKAN WANITA YANG LEMAH.

1 komentar:

  1. tulisan yang sangat bagus dan inspiratif. Tetap berjaya wanita aceh!

    BalasHapus